Thursday, March 12, 2020

Apakah sebenarnya tujuan Allah mencipta makhlukNya?

Apakah sebenarnya tujuan Allah mencipta makhlukNya?

Firman Allah Ta‘ala :

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-Dukhan 44:38-39)

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir." (Sad 38:27) 

"Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya dan mereka tidak akan dirugikan." (Al-Jathiah 45:22)

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu" (Al-Zariyat 51:56)

Source: Buku : 200 Tanya Jawab Akidah Islam oleh Syekh Hafizh Hakami

Apakah kewajiban hamba (manusia) yang pertama?

Apakah kewajiban hamba (manusia) yang pertama?

Kewajiban seorang hamba yang pertama adalah wajib mengetahui tujuan Allah mencipta makhlukNya, mengambil pengakuan mereka, menghantar para rasulNya dan menurunkan kitab-kitabNya kepada mereka. Hal ini juga merupakan tujuan diciptanya dunia dan akhirat, syurga dan neraka, datangnya hari akhirat, diletakkan alat penghitung amalan dan menyebarkan lembaran-lembaran (suhuf) yang oleh karenanya ditentukan kesengsaraan dan kebahagiaan dan berdasarkan perhitungan ini dibagi-bagi Nya cahaya. Barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala :

"Atau seperti gelap gulita di  lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak,  yang di atas ombak ada ombak  (pula),  di  atas  lautan  itu  (ada  lagi)  awan; gelap  gulita  yang  tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan  tangannya,  tiadalah dia dapat melihat  tangannya  itu,  (dan)  barang siapa yang tiada  diberi  cahaya  (petunjuk)  oleh  Alloh  tiadalah  dia mempunyai cahaya sedikitpun." (An-Nur 24:40) 

Source: Buku: 200 Tanya Jawab Akidah Islam oleh Syekh Hafizh Hakami

Wednesday, March 11, 2020

Apakah Dalil Penimbangan Amal (Mizan) dari Al-Qur'an dan Bagaimanakah Sifatnya?

Topik : Mizan, Shirath, Telaga, Surga dan Neraka

Tanya: Apakah dalil penimbangan amal (mizan) dari Al-Qur'an dan bagaimanakah sifatnya? 


Jawab: Allah berfirman, "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat bii sawi pun, pasti Kami menndatangkan (pahala)-nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan" (Al-Anbiya': 47). 
Kemudian di ayat yang lain sebagai berikut :

"Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami" (Al-A'raf: 8-9)

Allah berfirman mengenai orang-orang kafir berikut ini :

"Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat" (Al-Kahfi: 105)


Tanya: Apakah dalil dan keterangan dari As-Sunnah?
Jawab: Banyak sekali hadits mengenai masalah ini, antara lain hadits tentang kartu yang di dalamnya terdapat dua kalimat syahadat yang mengalahkan 90 catatan kejelekan, yang tiap-tiap catatan luasnya sejauh mata memandang.

Di antaranya lagi sabda Rasulullah saw mengenai Ibnu Mas'ud ra.,
"Apakah kamu menertawakan kedua betisnya yang kecil? Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya kedua betis Ibnu Mas'ud itu lebih berat timbangannya pada hari kiamat daripada gunung Uhud." (HR ath-Thayalisi dan Ahmad)

Sabda beliau : "Sesungguhnya akan didatangkan seorang yang besar dan gemuk pada hari kiamat, tetapi timbangannya di sisi Allah tidak sampai seberat sayap seekor nyamuk." Lalu beliau bersabda, "Bacalah firman Allah (yang artinya): "Maka Kami tidak meng- adakan suatu timbangan (penilaian) bagi amalan mereka pada hari kiamat." (Sahih Muslim 4:2147)

Demikian berita ini, semoga ada manfaatnya untuk kita semua.

Thursday, March 5, 2020

Dari Manakah Shaf Sholat Dimulai?

Pertanyaan: Shaf dalam sholat dimulai dari mana? apakah dimulai dari dibelakang Imam atau dari kanan ke kiri ?. 

Jawab: shaf pertama dalam sholat dimulai dari belakang imam lalu memanjang ke kanan dan kekiri, demikian juga shaf kedua dan seterusnya (Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyahnFil Masa'il AlAsyriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram Halaman 232).

Thursday, February 27, 2020

Demo Ujian Online Penerimaan Santri Baru di Pondok Pesantren Al Multazam Kuningan

Berikut ini adalah demo ujian online di Pondok Pesantren Al Multazam Kuningan melalui aplikasi android. Demo ujian ini dishare untuk membantu calon santri dan para orang tua agar mengetahui tata cara ujian online. Sumber video ini berasal dari web https://almultazam.sch.id/


Demikian semoga bermanfaat.

Tuesday, February 25, 2020

Murottal Anak Metode UMMI Juz 30 Terjemahan Bahasa Indonesia - English File Zip 1x Klik Tanpa Iklan [300 MB]

Download murottal anak juz 30 lengkap metode ummi cukup 1x klik tanpa iklan. Dimulai dari surat ke 78 (An Naba) sampai dengan surat ke 144 (An Naas). Berikut link download 1x klik tanpa iklan :
1. Murottal+Indonesia = 300 MB
2. Murottal+English = 256 MB
3. Murottal saja = 33 MB

Metode UMMI adalah salah satu metode dalam pembelajaran Al Quran. Ummi sendiri bermakna ibu yang identik dengan sabar, tabah, dan lembut. Pembelajaran Al Quran menggunakan metode ummi ini mengusung tiga prinsip yaitu mudah, menyenangkan, dan menyentuh hati. Belajar Al Quran dengan Metode UMMI saat ini dipakai oleh sebagian besar SDIT di seluruh Indonesia karena kemudahan dalam tahapan belajar dari jilid 1 sampai jilid 6. Jika sudah lulus bisa dilanjutkan dengan membaca Al Quran Juz 30 berikut ini. Audio murottal metode ummi tanpa terjemahan di youtube.com adalah sebagai berikut :

Metode Ummi Tanpa Terjemahan

Metode Ummi Terjemahan Indonesia

Metode Ummi With English Translation

Berikut ini audio dalam bentuk mp3 murottal metode Ummi tanpa terjemahan, dengan terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Metode UMMI : Tanpa Terjemahan

Metode UMMI : Terjemahan Bahasa Indonesia

Metode UMMI : With English Translation

Monday, February 10, 2020

Hukum Melecehkan Agama untuk Lelucon

Pertanyaan:
Ada sebagian orang yang bergurau kata-kata yang mengandung penghinaan terhadap Allah, Rasul atau agama ini. Apa hukum hal tersebut?

Jawab:
Perbuatan ini melecehkan Allah SWT, Rasulullah, atau KitabNya, meskipun hanya sekedar bergurau, meski hanya untuk mengundang tawa orang adalah kekufuran dan nifak (sifat munafik). Ini sama dengan apa yang terjadi di zaman Nabi. Mereka mengatakan: Belum pernah kami melihat yang seperti para ahli Quran kami, Mereka ini orang yang perutnya paling rakus, tidak pernah melihat yang lidahnya paling dusta (daripada mereka), tidak pula yang paling pengecut ketika menjumpai musuh. Yang mereka maksudkan adalah Rasulullah, sahabatnya, para ahli al-Quran. Maka turunlah ayat tentang mereka:

"Dan kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, Sesungguhnya Kami hanyalah bersendagurau dan bermain-main saja" (QS.At-Taubah/9:65)

Sebab mereka ini datang kepada Nabi dengan mengatakan: Kami ini hanyalah bercengkerama dengan perbincangan orang yang dalam perjalanan. Dengan itu kami hendak menghalau penatnya perjalanan. Maka Rasûlullâh berkata kepada mereka seperti yang Allâh perintahkan kepadanya:

"Apakah dengan Allâh, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya Kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman" (OS. At-Taubah/9: 65-66)

Masalah rububiyyan, risalah, wahyu, dan agama, itu semua adalah masalah yang sangat dihormati dimuliakan, tidak boleh seseorang untuk bermain-main dengannya; tidak dengan mengolok-olok, tidak dengan membuatnya bahan tertawaan, tidak pula dengan mengejeknya. Bila seseorang melakukannya, maka ia kafir. Karena itu menunjukkan pelecehannya terhadap Allâh,rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan syariat-Nya. 

Orang yang melakukan ini, harus ia bertaubat kepada Allâh dari apa yang telah ia perbuat. Karena ini termasuk perbuatan nifaq. Maka wajib atasnya untuk bertaubat kepada Allāh, memohon ampun kepada-Nya dan memperbaiki amalnya. Dan agar ia jadikan dalam hatinya rasa takut Kepada Allâh, pengagungan kepada-Nya, rasa takut kepada-Nya, dan cinta kepada-Nya.

Source: AS Sunnah 10/XXIII